Tuesday, November 13, 2012

What should I choose?

Sudah melewati tengah semester di semester 5 ini. Wow, rasanya baru aja jadi maba kemarin (kemarin kapan yaa? plis deh Fariztah -_-). Tapi beneran nggak kerasa sih, maksudku waktu berlalu dengan cepat. Tiba-tiba sudah semester 5 dan tidak lama lagi nyebrang ke rumah sakit. Semakin berjalan kesini, semakin aku berpikir tentang masa depanku. Mungkin ada yang berpikir, kenapa harus mikir, kan udah jelas kalo sekolah di kedokteran ya jelas jadi dokter dong. Iya, memang. Tapi jadi dokter yang gimana? Sekolah kedokteran jaman sekarang beda banget sama jaman orang tua kita dulu. Sekarang, banyak instansi pendidikan baik negeri maupun swasta yang membuka prodi Pendidikan Dokter. Bisa dibayangkan berapa orang yang diluluskan tiap tahunnya untuk menjadi dokter semua. Belum lagi ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi sebelum bisa berpraktek. Sebenarnya kalau dilihat dari rasio jumlah penduduk Indonesia dengan jumlah dokter apalagi dokter spesialis itu masih kurang (Maaf yaa, nggak ada sitasinya..). Hanya saja, semua terkonsentrasi di kota besar. Tapi itu juga butuh peran dari pemerintah sendiri. Entah kenapa pembangunan tidak merata dan kebanyakan terkonsentrasi di Pulau Jawa. Ya jelas kalau mau hidup enak semua pada milih hidup di Pulau Jawa dong -_-. Mungkin ada benarnya kalau ada yang bilang mahasiswa yg kuliah kedokteran ini sudah "terjebak". Hehehe..
Setelah bertemu beberapa orang dan membaca buku aku jadi bingung. Aku jadi bertanya-tanya kira-kira aku ingin jadi dokter seperti apa. Apa yang bisa membuatku berbeda dan berarti? Sewaktu aku menjadi tim medis saat Kejuaraan Piala Walikota Kempo tahun ini, aku berbincang-bincang dengan dr. Evy, yang menjadi kadiv medis dan juga ibu teman SMAku. Beliau berpesan agar aku memutuskan untuk mengambil spesialis dan menjadi dosen, atau apapun itu yang penting punya nilai plus. Dan yang penting, mulai saat ini atau nanti waktu clerkship benar-benar memperhatikan kuliah di tiap departemen, apa saja yang bakal kita lakukan ketika kita mendalaminya dan memikirkan bidang apa yang ingin aku dalami, karena dokter itu kan semacam kontrak pekerjaan seumur hidup. Jadi yang benar-benar kita sukai dan sesuai dengan tenaga kita. Nah, karena ini juga aku berpikir sebagai seorang wanita, yang harus mengurus keluarga, selain nantinya menjadi seorang dokter.
Saat aku mendapat materi dari dr. Siti Pariani, aku juga tambah bingung. Menurut beliau, dokter juga bisa kok nggak melulu berpraktek, tapi juga terjun ke pemerintahan, atau juga lebih bergerak ke bidang promotif dan preventif, bukan hanya kuratif. Ataupun saat aku membaca buku From Beirut to Jerussalem yang ditulis oleh dr. Ang Swee Chai, dokter bedah ortopedi beretnis Cina yang tinggal di Inggris. Kalian tahu apa yang membuatku kagum? Dia memiliki postur tubuh yang mungil khas Asia, bahkan mungkin lebih kecil daripada aku, tapi dia adalah dokter bedah ortopedi dan malah menjadi relawan di daerah konflik yaitu di Palestina, walaupun berbeda agama. Memang yang dibutuhkan di daerah konflik adalah dokter anestesi dan dokter bedah terutama ortopedi. Dia juga mendirikan MAP (Medical Aids for Palestine) sebagai badan yang menyalurkan bantuan warga Inggris untuk Palestina. Wow, tiba-tiba aku ingin menjadi relawan di daerah konflik, tapi nanti ibuku nggak tega. ~.~
Hmm.. Di tengah kebingunganku (nggak bingung juga sih, cuma lagi mikir), ibuku cuma berpesan, "Kalau jadi dokter nanti, jadi dokter yang baik ya dek.." Ayo Fariztah sekarang belajar dulu yang rajin, jangan males-males.. Inget apa tujuanmu kenapa milih jalan ini dulu \(^o^)/

2 comments:

  1. apapun pilihannya, yang terpenting jangan jadi dokter demi keuntungan pribadi :)
    smangat faarrr!

    ReplyDelete
  2. Insya Allah :) Doakan yaa. Hehe.. Semangaat ^^

    ReplyDelete