Showing posts with label family. Show all posts
Showing posts with label family. Show all posts

Sunday, November 15, 2020

Cinta Pertamaku Pergi, tapi Hidup akan Terus Berlanjut

Akhirnya aku mencoba untuk menulis lagi. Sebenarnya dua tahun lalu aku ingin membiasakan diriku menulis lagi. Apalagi saat itu, aku mendapat kesempatan untuk melanjutkan studi, memperdalam ilmu tentang mata. Pasti menulis adalah keterampilan yang sangat dibutuhkan terutama dalam proses belajar. Aku bahkan membeli buku motivasi untuk menulis, yang ternyata ditulis oleh salah seorang anggota grup Whatsapp yang berisi orang-orang sevisi yaitu yang mencintai Rasulullah dan Ahlulbaitnya. Namun sayang, dua tahun lalu, tidak lama setelah aku membaca bukunya, orang tersebut meninggal.

Namun, bukan itu saja yang membuatku berhenti menulis. Beberapa bulan berikutnya, tepatnya Agustus 2018, setelah acara pengukuhan mahasiswa baru PPDS Ilmu Kesehatan Mata Unair, Bapakku, cinta pertama dan tempat kami bersandar, tiba-tiba tidak sadarkan diri, sempat dirawat selama 6 hari di ICU dan akhirnya meninggal dunia di usia 51 tahun. Usia yang bisa dikatakan masih produktif dan masih cukup muda. Aku ingin menulis apa yang aku rasakan setelah kejadian yang pasti akan terjadi namun tidak diharapkan. Aku hanya berharap aku akan terus mengingat beliau, peran beliau hingga aku menjadi seperti ini, balas budi yang belum sempat kulakukan, serta impianku untuk membahagiakan bapak dan ibu. Namun karena saat itu aku masih harus berkonsentrasi dengan dunia baruku untuk meraih impian, aku sering mengurungkan niatku untuk menuangkan apa yang ada di pikiranku dengan menulis. Aku harap waktu dapat menyembuhkan segalanya. Tetapi sampai sekarang pun tetap saja, aku menulis ini dengan bulir air mata yang menetes di pipi. Mungkin ada yang berpikir, jangan terlalu sering menangisi orang yang meninggal, atau hidup ini akan terus berlanjut meski mereka tiada. Ya memang benar, detik akan terus melaju, meski aku dan ibu merasa waktu di dunia ini sempat berhenti sejenak. Mencoba mencerna apa yang terjadi, mengambil sikap untuk rencana ke depan. Tetapi bapak yang sudah meninggal, tetaplah bapakku, orang yang sangat berarti bagiku, yang mungkin tidak terlalu berarti bagi orang lain. Hal seperti ini mungkin dengan mudah dapat dirasakan oleh orang yang juga pernah merasakan orang yang paling berharga meninggalkan dunia ini, tetapi mungkin tidak dengan orang yang belum pernah merasakan kehilangan.

Rasa penyesalan terbesarku adalah kami bukan keluarga yang dengan mudah mengekspresikan perasaan cinta, kasih dan sayang dengan lugas. Kami terlalu kaku dan malu mengungkapkannya. Yang seharusnya aku lakukan selama waktu masih berpihak padaku, sebelum semuanya terlambat. Seharusnya aku sering mengucapkan kata terima kasih, aku sayang bapak, atau seperti keinginan bapak diam-diam yang ingin aku bercerita banyak hal kepadanya, yang belum pernah aku lakukan. Bapak pernah bilang ke ibu kalau sebenarnya bapak ingin sekali mendengar ceritaku langsung, tertawa bersama bila itu adalah hal yang lucu, tapi aku terlalu cuek. Saat itu aku berpikir agak susah bercerita kepada bapak karena reaksi bapak yang cukup berlebihan dan sering menyimpulkan dengan cepat, sedangkan bila aku cerita tentang sesuatu, artinya aku hanya ingin didengar dan akan aku selesaikan sendiri bahkan bila itu adalah masalah yang cukup berat. Tetapi itulah yang kurindukan saat ini, saat semuanya sudah terlambat.

Sampai saat itu, bapak sudah mengajari dan meneladaniku banyak hal. Terutama hal yang sangat pokok bagi kita dalam menjalani hidup di dunia yang berat ini. Berbekal cinta kepada Rasulullah dan Ahlulbaitnya, bapak selalu yakin dengan itu kita akan bahagia di dunia dan di akhirat. Karena sudah mendeklarasikan seperti itu, seharusnya aku bersemangat mengejar impianku, melakukan terbaik yang aku bisa agar bisa meneladani Rasullullah dan Ahlulbaitnya. Tetapi sejujurnya aku tidak terlalu percaya diri setelah bapak tiada. Aku menanyakan kepada diriku sendiri, apakah aku mampu melakukan semua itu, apakah aku mampu mempertahankan keyakinanku yang dipandang sebelah mata oleh orang yang bahkan tidak pernah mengetahui yang sebenarnya tapi hanya termakan isu yang beredar. Tetapi dilihat dari sisi manapun, kebenaran tersebut terlalu terang benderang untuk diabaikan.

Aku hanya bisa berdoa dan berharap, semoga anugerah yang berharga ini tidak akan tergoyahkan sampai nafas terakhir kami. Semoga kesempatan yang masih diberikan kepada kami, dapat kami manfaatkan sebaik mungkin untuk kebaikan dan untuk membantu sebanyak mungkin orang. Aamiin..
Al Fatihah yang diiringi dengan sholawat sebelumnya untuk almarhum bapak yang sudah lebih dahulu menghadap Allah pada 16 Agustus 2018 dan niscaya kami juga akan menyusulnya. 


Makam Bapak di TPU Keputih. Terima kasih banyak Pakpuh, sudah banyak membantu baik dukungan maupun biaya, dan juga memesankan pemakaman yang juga dekat dengan makam Eyang Uti, orang yang paling Bapak sayangi.




Tidak banyak kenangan bersama Bapak yang tertangkap oleh kamera. Tapi insya Allah akan selalu kuingat sampai kapan pun.

Sunday, March 13, 2016

My First Experience of Grief

Goodbyes are only for those who love with their eyes. Because for those who love with heart and soul there is no such thing as separation. 
-Rumi-

Finally, you came to my dream, Grandma (Eyang Uti)...
Detik-detik terakhir sebelum aku bangun pagi ini, aku bermimpi Eyang Uti datang ke rumahku ditemani oleh Budhe Iin, seperti biasanya saat Eyang Uti masih hidup. Aku agak terkejut karena dalam mimpi itu aku dalam kondisi mengetahui bahwa Eyang Uti sudah meninggal. Aku kira yang datang berkunjung ke rumah adalah Eyang Kakung. Saat aku keluar dari kamar untuk menyambut mereka, aku melihat wajah Eyang Uti yang berseri, bahagia dan tersenyum kepadaku, yang sampai sekarang ekspresi wajah itu tergambar jelas di pikiranku. Aku sempat terkejut tapi kemudian aku segera memberi salam dan mencium tangannya. Beliau hanya tersenyum dan sempat memegang kalung emas pemberiannya saat aku masih SD dan (sedihnya) baru aku pakai setelah kepergiannya karena sebenarnya aku tidak terbiasa memakai perhiasan. Hanya beberapa detik pertemuan kami lalu aku terbangun. Awalnya seperti bangun tidur seperti biasa, sampai aku teringat lagi tentang mimpiku itu saat akan sholat Subuh. Entah mengapa air mataku menetes dan sulit aku hentikan. Sama seperti saat meninggalnya, air mataku tidak berhenti menetes. Bahkan saat menulis postingan ini pun, air mataku masih menetes. Saat ditanya ibuku mengapa aku menangis, aku tidak bisa menjawabnya karena aku takut air mataku akan menetes lebih deras lagi. Aku tidak tahu apakah Eyang Uti yang ada di mimpiku itu memang benar beliau ataukah hanya bunga tidur semata. Apapun itu aku bahagia jika keadaan Eyang Uti di alam barzakh memang seperti yang aku lihat dari ekspresi wajahnya dalam mimpiku. Dan aku akan berusaha untuk terus mendoakan Eyang Uti seperti yang Eyang Uti lakukan pada anak-anak dan cucu-cucunya selama beliau masih hidup. Terima kasih telah hadir di mimpiku setelah lebih dari empat puluh hari Eyang Uti meninggal.

26 Januari 2016
Hari itu hari Selasa, yang tidak akan pernah aku lupakan. Pagi itu, bapakku baru saja pulang dari RS Mitra Keluarga di daerah Surabaya Barat tempat Eyang Uti dirawat, setelah sebelumnya dirawat di RS di Jember. Bapak berencana menjenguk Eyang Uti lagi dan mengajak Ibu juga. Saat itu aku stase Obsgyn di RSUD Soewandhie. Aku berangkat stase seperti biasa, tetapi entah mengapa aku lupa membawa HP yang sedang di-charge. Menjelang tengah hari, Mas Inung, saudara sepupuku, mencariku lewat grup line angkatan. Rasa tidak enak segera menghinggapiku dan segera aku hubungi Mas Inung dengan HP temanku. Dan memang benar, dia memberitahuku tentang kondisi Eyang Uti di ICU yang sudah MBO (Mati Batang Otak) dan hanya bergantung pada ventilator. Air mataku tidak terbendung lagi dan Ibu mengatakan sebaiknya aku cepat pulang dan bisa segera ke RS tersebut. Setibanya aku di sana, hanya ada Ibu, Bapak serta adik ipar Eyang Uti. Keluargaku yang lain pulang sebentar untuk beristirahat, terutama Pakpuh Dwi dan Budhe Iin yang memang belum pulang sejak dari Jember hari Minggu yang lalu. Bapak pun berencana pulang sebentar untuk mandi dan sholat. Sehingga yang tetap disana hanya aku, Ibu, Budhe Wiwik dan adik ipar Eyang Uti. Saat itu belum jam besuk sehingga aku hanya diizinkan melihat Eyang Uti dari luar kaca. Sebenarnya aku mulai terbiasa melihat pemandangan pasien di perawatan intensif yang diintubasi dan terhubung dengan ventilator, diberi vascon untuk mempertahankan tensinya, tetapi ini pertama kalinya aku berada di posisi keluarga pasien dan itu membuatku teramat sedih. Lalu aku keluar dan sudah ada beberapa penjenguk, rata-rata adalah kenalan Pakpuh Dwi dan ada juga beberapa PPDS yang merupakan anak didik Pakpuh Dwi.
Mendekati akhir jam jenguk, aku masuk lagi ke ruangan dan kali ini aku ingin mendekat dan memegang tangan Eyang Uti. Tidak lama setelah aku masuk, dokter dan perawat masuk dan terlihat mengatur ulang setting ventilator. Saat itu aku melihat monitor vital sign, tensi Eyang Uti semakin rendah, nadinya semakin melambat. Dokter pun mengatakan biarkan semua berjalan senatural mungkin. Dan aku pun sangat paham maksudnya. Ibu memintaku untuk membacakan surat Yasin. Aku sudah beberapa kali berada pada kondisi seperti itu sebagai tenaga medis, tetapi itu adalah pertama kalinya aku berada pada kondisi tersebut sebagai keluarga pasien, yang diminta persetujuan untuk melepas ventilator. Aku paham, sangat paham dan aku hanya bisa menganggukkan kepala, mengucapkan terima kasih dan meneruskan membaca surat Yasin sambil menangis sesenggukan. Aku tidak percaya beliau meninggalkan kami secepat ini, di tahun ini, dimana ada cucunya yang akan menikah bulan ini, ada pula dua cucunya yang lain Insya Allah akan dilantik menjadi dokter tahun ini. 

Aku baru merasakan perpisahan salah satu keluarga dekat yang nyata untuk pertama kalinya selama 23 tahun aku hidup di dunia ini. Rasa sedih teramat dalam yang pertama kali aku rasakan. Lalu aku berpikir, aku hanya seorang cucu yang baru sebentar mengenalnya selama 23 tahun (mungkin kurang dari itu karena saat bayi masih belum bisa mengenal orang secara khusus), merasa amat sedih, bagaimana dengan Bapakku, Pakdhe dan Budhe, apalagi Eyang Kakung, yang sudah hidup bersama puluhan tahun. Sungguh aku tidak sanggup membayangkannya, bahkan untuk berada di dekat Eyang Kakung kadang aku tidak berani lama-lama terutama saat beliau bercerita tentang Eyang Uti semasa hidupnya dan beliau meneteskan air mata, secepatnya aku beranjak dan segera mengusap air mata yang menggenang di mataku sebelum menetes.

3 Maret 2016
Tidak terasa sudah 40 hari Eyang Uti wafat. Bapak mengadakan pengajian di rumah untuk mengirimkan doa pada Eyang Uti. Setelah doa, ada ceramah Ustadz yang memimpin doa tadi dan beberapa hal yang aku ingat, bahwa kematian bukanlah akhir segalanya, hanyalah perpindahan dari alam materi ke alam ruh (barzakh); kematian, sama seperti kehidupan, merupakan ujian dari Allah; kematian adalah pelajaran yang teramat nyata dan pengingat manusia yang masih hidup. Ada 2 hal yang dapat mencegah manusia dari perbuatan maksiat, yaitu adanya Allah yang selalu mengawasi kita, bahkan di tempat tersembunyi sekalipun dan kematian yang terjadi di sekitarnya. Hal pertama mungkin terkadang agak susah karena manusia fitrahnya meyakini apa yang bisa ditangkap oleh panca indranya, sedangkan keberadaan Allah tidak bisa ditangkap oleh panca indra kita, melainkan kita meyakininya, tetapi hal kedua, yaitu kematian sering kita jumpai setiap harinya dan pasti kita akan merasakannya, hanya saja kita tidak tahu kapankah waktu itu akan tiba. Ada juga sebuah hadist yang sangat populer; Jika anak Adam meninggal, maka terputus amalnya kecuali 3 perkara, shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak soleh yang berdoa baginya. Untuk perkara yang terakhir disebutkan, anak soleh yang berdoa baginya, bukan berarti bila ada orang lain yang tidak ada hubungan kekerabatan dengan orang tersebut, mendoakannya, doa tersebut tidak akan sampai. Doa siapapun pasti akan sampai dan akan sangat membantunya di alam Barzakh, selain amal yang dilakukan semasa hidupnya.


Banyak sekali kenangan dari Eyang Uti untukku. Mulai dari perhiasan, yang Eyang Uti tekankan agar jangan sekali-kali dijual, sampai pemberian terakhir Eyang Uti sebulan sebelum beliau meninggal, Terima kasih atas segala perhatian dan doa Eyang Uti bagi kami. Terima kasih wanita paling tangguh yang aku kenal, wanita yang murah hati. Semoga amal dan perbuatan baik Eyang Uti diterima oleh Allah, diampuni segala dosanya. Semoga keadaan Eyang Uti di alam barzakh baik dan diliputi limpahan rahmat dan kasih sayang Allah. Semoga kami yang masih hidup dapat mengambil pelajaran dan memanfaatkan waktu yang tersisa untuk beribadah dan bermanfaat bagi orang lain.

Sunday, September 13, 2015

Yes, We Are The Bandar's!!!

Akhirnyaaa... tiga minggu yang awalnya terasa berjalan amat lambat ternyata selesai juga. Dengan selesainya stase Community Medicine, yang sebelumnya didahului oleh stase IKM (Ilmu Kesehatan Masyarakat), artinya kami harus kembali ke kehidupan nyata kami, yaitu di tempat menuntut ilmu favorit kami, RSUD Dr. Soetomo. Kami akan kembali jaga, menangani pasien dan ujian, begitu seterusnya sampai stase terakhir kami. Tapiii, sebelum itu terjadi beberapa jam lagi, izinkan aku menuangkan kenangan, memori, pelajaran yang layak untuk dikenang, sebelum memori ini memudar. Suatu pelajaran berharga tentang kehidupan yang mungkin akan jarang aku temui lagi.


Sooo, let me introduce these amazing people who turn into family  :)
Laki-laki (dari kiri ke kanan): Edrick, Nico, Ayub (Oi), Kun dan Laskar
Perempuan (dari kiri ke kanan): Mbak Ika, Nanda, Grace, aku (Fariztah), Yumnah (Jumi) dan Vembi (Bembi).

Kelompok kami yang berjumlah 11 orang ini, pada awalnya belum kenal baik satu sama lain, kecuali yang memang satu kelompok DM. Dengan latar belakang yang berbeda, sifat dan karakter yang berbeda, pada akhirnya kami merasa sangat bersyukur berada di kelompok ini. Cukup banyak cerita lucu, unik, menyenangkan, menyedihkan, menjengkelkan sampai hampir merasa putus asa selama tiga minggu kami hidup disini, di Kecamatan Bandarkedungmulyo, Kabupaten Jombang. Kecamatan Bandarkedungmulyo merupakan kecamatan paling barat, perbatasan Jombang dengan Nganjuk dan Kediri. Karena di daerah perbatasan, bagi kami peradaban terdekat adalah di Kertosono, Nganjuk. Hanya membutuhkan sekitar 10 menit dari rumah dinas kami. 

Letak Puskesmas kami, yang cukup dekat dengan Sungai Brantas

Sebelum kami berangkat, pasti ada beberapa hal yang terlintas di otak kami, yang kami harapkan akan kami dapatkan disana, antara lain:
  1. Bisa menerapkan prinsip work hard, play harder yang artinya tugas selesai, kami juga bisa jalan-jalan, menjelajahi kota Jombang dan sekitarnya
  2. Mendapat Kepala Puskesmas yang asyik, woles, menerima kedatangan kami dengan hangat dan terbuka dengan kami
  3. Mendapat rumah kontrakan yang cukup nyaman, laki-laki dan perempuan bisa satu rumah untuk memudahkan kami bekerja dan ada tempat untuk memasak, apalagi ada yang pintar memasak di kelompok kami. Meskipun kami tahu kalau kami ditempatkan di rumah dinas dekat puskesmas dan di tepi jalan raya provinsi, kami harap kami masih bisa melobi Kapus kami agar kami diizinkan mencari rumah kontrakan yang lebih nyaman
  4. Tugas kami selesai dan bisa menghasilkan program-program yang diterima dan bermanfaat bagi masyarakat

Dan dari harapan-harapan yang terlintas di otak kami, kenyataan yang kami dapatkan adalah:
  1. Rumah dinas yang ditempati oleh laki-laki, ternyata tidak sepenuhnya bersih dan nyaman. Bahkan semua kecoa dan semut keluar dari sarangnya. Mungkin karena terganggu dengan kedatangan kami. Dan lucunya, ternyata ada dari kami yang belum tahu kalau kecoa bisa terbang, dan mengatakan bahwa itu adalah kecoa mutan. Dan karena berada di tepi jalan raya provinsi, yang dilewati truk, bus dan apapun itu, masalah yang kami hadapi adalah: debu, bisingnya klakson bus dan truk, belum lagi kalau mereka ugal-ugalan, kami hanya bisa berdoa semoga kami tetap diberi keselamatan dan perlindungan dari-Nya sehingga tidak ada bus, truk dan lain-lain yang nyasar ke rumah dinas kami, dan juga getaran-getaran akibat bus dan truk yang lewat (laki-laki yang punya banyak pengalaman tentang ini)
  2. Kos yang ditempati oleh perempuan, tidak jauh dari puskesmas, sekitar 100 meter. Sebenarnya cukup nyaman bila dibandingkan rumah dinas. Tapi ternyata kamar mandinya hanya satu, itu pun digunakan bersama orang lain yang kos disitu bahkan termasuk bapak kos, ibu kos, anak kos. Untuk mencuci, awalnya aku berencana bakal mencuci di dalam kamar mandi tiap mandi pagi. Tapi dengan kenyataan seperti itu, aku mengubah rencana dengan mencuci di depan kamar mandi dan menggunakan pompa tangan (pompa air sederhana jaman dulu). Sayangnya aku belum sempat mendokumentasikan pompanya
  3. Ternyata kapus kami sangat jauh dari apa yang kami ekspektasikan, tidak hanya itu, jujur saja kami sama sekali belum pernah bertemu, berinteraksi dengan orang yang mempunyai karakter seperti itu. Dan itulah yang membuat kami awalnya tidak terlalu bersemangat menjalani CM ini. Bayangkan saja, bagaimana nasib nilai kami di tangannya
  4. Tapi alhamdulillah, meskipun kami tidak diterima dengan baik oleh kapus kami, kami sangat bersyukur ternyata ada yang menyambut dengan senang kedatangan kami, yaitu Bu Yayuk dan drg. Ning. Kalau saja tidak ada beliau-beliau ini, kami mungkin tidak sanggup bertahan hidup disini
  5. Kondisi kritis yang menentukan kehidupan kami selanjutnya adalah ketika lokakarya. Meskipun yang datang mungkin tidak sesuai harapan kami, tapi ternyata kualitas mereka jauh melebihi ekspektasi kami, dan itu yang kami syukuri dan karena mereka, kami sangat bersemangat menjalani hari-hari berikutnya untuk menjalankan terapi komunitas.
  6. Ternyata masalah masih suka mendekati kami. Kami mengalami beberapa hambatan dalam merealisasikan terapi komunitas yang kami rancang dan datangnya sekali lagi, dari kapus kami. Beliau tidak menunjukkan dukungan maupun apresiasi terhadap apa yang kami coba lakukan untuk wilayah kerja puskesmasnya. Merasa jengkel, sebal, bingung, hampir putus asa? Ya, pasti.. Tapi kami bertekad untuk tetap merealisasikannya dalam keterbatasan kami. Kembali lagi ke niat kami, kami hanya ingin kebaikan yang diperoleh dari program tersebut untuk masyarakat. Mungkin promosi ataupun publikasi program kami tidak segencar kelompok lain, tapi kami bangga kami tetap bisa produktif di tengah keterbatasan kami, dimana kami tidak mendapatkan dukungan dari orang yang mempunyai kuasa tentang itu.
  7. Kami menyadari bahwa kelompok kami hebat, masing-masing dari kami mempunyai kelebihan dan peran masing-masing yang membuat program kami berhasil, membuat kami terus maju, menghadapi masalah yang ada bersama-sama, mencurahkan pendapat dan mengambil keputusan terbaik untuk kelompok. Dan sekarang, kelompok ini telah berubah menjadi keluarga :)  

Cukup 7 poin aja yaa kenyataan yang kami dapatkan. Sebenarnya lebih banyak dari itu. Bahkan kalau ditulis pun tidak akan bisa menggambarkan apa saja yang telah kami dapatkan. Dari ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan itu, kami berkesempatan untuk belajar. Belajar hal-hal berharga yang mungkin tidak akan kami dapatkan di tempat lain, kalau tidak disini. 

Inilah maksud dari community medicine:
Go to the people
Live among them
Learn from them
Love them
Start with what they know
Build on with what they have

Mungkin awalnya aku hanya sekedar mengerti ketika membaca kata-kata ini, tapi setelah aku mengalaminya, aku menjadi semakin mengerti apa maksud dari ini.

Dan, tibalah di bagian akhir dari post ini. Dari hal-hal yang kami temui, dapatkan, rasakan, dari suka maupun duka, dari awal bekerja sama hingga setelah CM ini, yang pertama kami rasakan adalah kami sangat bersyukur. Kami bersyukur kami bisa belajar banyak, belajar tentang dinamika kehidupan, belajar menjadi orang yang lebih baik lagi. Mungkin ini yang bisa aku ambil selama 3 minggu hidup bersama mereka, orang yang paling tangguh:
  1. Mungkin bertemu orang dengan karakter yang luar biasa unik itu bukanlah harapan masing-masing dari kami, tapi pasti suatu saat selama kami hidup kami akan bertemu dengan orang seperti itu, hanya saja kami dipertemukan dengan orang itu saat 3 minggu kami di sana, dan beruntungnya kami, kami bisa menghadapinya bersama-sama. Dari beliau, kami belajar untuk tidak asal menilai / men-judge orang yang baru kita temui, menghargai orang lain sebagaimana kami juga ingin dihargai, menyambut tamu yang datang dengan ramah dan hangat, mendengarkan dan menghargai pendapat orang lain. Kami tidak menilai beliau memiliki karakter yang buruk, tapi kami hanya berpikir positif, mungkin ada sesuatu yang terjadi sebelumnya ataukah ada pengalaman buruk yang membuatnya menjadi seperti itu. Semoga beliau dibukakan pintu hatinya dan bisa memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi
  2. Baik rumah dinas maupun kos yang kami dapatkan juga bukanlah seperti apa yang kami harapkan, apalagi setelah melihat rumah kontrakan kelompok lain. Tapi seperti kata Kun, "Jangan bandingkan kita dengan kelompok lain, rumput tetangga selalu lebih hijau daripada rumput sendiri." Syukurlah airnya jernih meskipun agak beraroma "karat", mungkin karena pipanya yang berkarat. Dengan mendapatkan kesempatan tinggal di sini, membuat kami lebih mudah bersyukur. Ternyata rumah kami sangat nyaman, tidak bising dan tidak berdebu. Kalau mandi tidak perlu antri, kalau mencuci tidak perlu menggunakan pompa, yang sudah amat jarang ditemui di Surabaya. Semua itu meninggalkan kesan tersendiri di hati kami.
  3. Mungkin ada yang tidak menghargai keberadaan kami disana, tidak menghargai program terapi komunitas yang kami ajukan, tetapi kami merasa amat sangat bersyukur sekali dan bahagia luar biasa ketika mengetahui masih ada lo, masih ada orang yang sangat menghargai kami, berterima kasih karena keberadaan kami, yaitu kader-kader Desa Pucangsimo, Bu Yayuk dan drg, Ning serta dari orang yang tidak kami sangka yaitu perwakilan Dinkeskab Jombang, Bu Titik Ulfah dari Kesehatan Keluarga (KESGA). Dan juga, kami mendapat dukungan dari pembimbing kami dan dosen-dosen yang melakukan supervisi ke rumah dinas kami.







Terima kasih banyak teman-teman seperjuangan, The Bandar's/Rangers of Bandar, keluarga baruku. Akhirnya kita berhasil melalui semuanya yang alhamdulillah berakhir dengan indah dan manis. Semangat berjuang di stase masing-masing, semoga sukses. Sampai ketemu di stase terakhir kita, stase obstetri-ginekologi :)

Sunday, January 12, 2014

My Super Mom and Dad

My Super Mom and Dad.. Gaya banget nulisnya, padahal manggilnya juga Ibu dan Bapak. Hehe.. Ini ketiga kalinya aku bicara tentang Ibu dan baru sekali bicara tentang Bapak. Huhu.. Nggak adil ya? Makanya aku nulis sekarang. Mungkin orang tuaku tidak bekerja di suatu instansi perusahaan, atau menjadi PNS ataupun dalam BPJS termasuk kategori pekerja penerima upah. Meskipun begitu alhamdulillah sampai saat ini keluarga kami hidup berkecukupan dan masih bisa membantu orang lain yang membutuhkan.

Bicara tentang Bapak. Bapak itu orang yang keras, tegas, blak-blakan (beda banget sama aku), tapi baik, pengetahuannya amat luas, gampang tersentuh hatinya bila melihat orang kesusahan dan hobi "ngudang" (baca: menghibur anak kecil). Pastinya juga sangat khawatir dan sangat menjaga anak perempuan satu-satunya. Hehe.. Tapi lucunya, kalau Bapak khawatir tentang aku, selalu bicara ke ibu dulu. Jarang langsung bicara ke aku. Aku pun dulu saat meminta izin untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya membuat Bapak keberatan, aku juga izin ke ibu dulu. Jadi, like father like daughter. Setelah itu pun ternyata Bapak hanya menyiratkan keberatan, tetapi tidak melarangku. Dan akhirnya pun keputusanku itu tidak membuatku bahagia. Sempat menyesal mengapa aku mengambil keputusan itu yang jelas-jelas tidak benar dan merugikanku selama dua tahun ini. Bapakku juga senang mendalami ilmu tentang pengobatan alternatif. Banyak banget yang dipelajari. Mulai dari refleksi, akupuntur, akupressur, normalisasi, sampe yang terakhir ini homeopathy. Nah, untuk homeopathy ini, masih banyak yang belum mengenalnya. Meski di negara-negara Barat maupun negara tetangga kita, Malaysia, ilmu pengobatan ini cukup populer. Pelopornya adalah seorang dokter di Jerman beberapa ratus tahun yang lalu, tetapi prinsipnya berbeda dengan ilmu yang sedang aku pelajari sekarang. Mungkin setelah ini aku bisa membandingkannya. Bapakku benar-benar anti-mainstream. Tetapi anti-mainstream yang nggak asal-asalan. Hehe.. Jadi, meski aku menyadari pengetahuanku juga masih amat sangat sedikit, tetapi apa yang aku tahu dari keluargaku ini, yang jarang diketahui orang lain di sekitarku. Akhirnya aku menyadari, nggak semua yang mainstream itu bagus atau benar. Yang terpenting kita punya prinsip yang harus kita pegang kapanpun dan dimanapun. Apalagi kalau bukan agama. Dan aku banyak mendapatkan bantuan dari Bapak tentang itu. 

Kalau tentang ibu.. Wah, sama seperti dua postingan sebelumnya. Bener-bener Super Mom. Ibu yang membesarkanku dengan penuh kesabaran dan kelembutan. Meski sebenarnya pekerjaannya sekarang tidak sesuai dengan kuliah yang diambilnya dulu, jurusan teknik kimia ITS, lebih memilih menjadi ibu rumah tangga yang baik tapi juga guru privat SMP dan SMA yang cukup populer (cukup populer disini karena tiap hari hampir ada jadwal les T.T. Jadi nggak bisa aku ajak jalan-jalan kalau mendadak). Lucunya, ibuku ahli di bidang matematika, fisika dan kimia. Sedangkan ibuku nggak terlalu paham biologi. Padahal apa yang aku pelajari sekarang banyak ke biologinya. Mungkin itu maksudnya, supaya bisa saling melengkapi. Ibuku juga selalu ada disisiku apapun kondisiku. Selalu mengetahui kesedihanku, meski aku berusaha keras menyembunyikannya. Selalu mengingatkanku untuk menjaga iman, membaca sholawat. Menanyakan aku pulang jam berapa, ada apa kok belum pulang. Selalu mendoakanku. 

Aku bersyukur Allah menitipkanku kepada kedua orang super ini. Kedua orang yang membuatku bisa seperti sekarang. Banyak bekal menghadapi kehidupan yang telah mereka berikan padaku. Keimanan, pelajaran hidup, akhlak, kasih sayang dan masih banyak lagi. Mereka juga mengajarkanku cinta yang hakiki. Cinta kepada Allah, Rasulullah Muhammad SAW dan keluarganya yang suci.

Jadi ingat beberapa waktu yang lalu aku membaca status facebook yang ditulis Tante Euis Daryati:
Keutamaan Anak Perempuan:
Rasulullah, "Tidak menyukai anak perempuan kecuali orang mukmin."
Imam Jakfar, "Anak laki-laki adalah kenikmatan dan anak perempuan adalah kebaikan. Sementara Alloh akan bertanya tentang kenikmatan dan menetapkan kebaikan."
Rasulullah, "Barangsiapa yg membesarkan tiga anak perempuan hingga menikah, mereka akan menjadi pelindung baginya dari neraka."

Semoga dengan takdirku dititipkan kepada mereka, aku memang menjadi kebaikan bagi mereka. Dan aku harap meskipun aku anak perempuan satu-satunya, aku juga benar-benar bisa menjadi pelindung mereka dari neraka.Walaupun aku juga tidak tahu sampai berapa lama lagi aku hidup di dunia ini, aku harap aku masih punya kesempatan untuk membuat mereka bahagia dan tidak mengecewakan mereka lagi. Amin..