Wednesday, July 25, 2012

Ibu, You're My Everything..

Sudah dua kali ini, setiap setelah tahajud entah kenapa otomatis aku meneteskan air mata karena teringat omongan ibu saat menghiburku beberapa hari lalu. Sejak saat itu aku berpikir bagaimana jadinya aku kalau tidak ada ibu di sampingku. Beberapa hari yang lalu karena ada sesuatu hal aku merasa sangat sedih dan sakit. Tapi, bagaimana pun aku menyembunyikan rasa sedihku, ibuku pasti tahu. Ibu juga tahu cara agar mau tidak mau aku cerita padanya. Setelah mendengar ceritaku, ibu memelukku dan berkata, "Udah, nggak papa.. Yaa mungkin orang itu masih ada keperluan, atau ada sesuatu, kita ini nggak bisa ngatur orang lain agar sesuai dengan kemauan kita. Kita yang harus pandai-pandai bersikap." Ibu selalu mengajakku untuk berpikir positif terhadap suatu masalah. Lalu ibu berkata lagi, "Tahu nggak, walaupun adek anak bungsu, tapi adek udah dewasa sebelum waktunya. Masih inget nggak, waktu umur 3 tahun, adek ngomong ke ibu, yaa masih pelat (cadel) gitu, ngomong gini, 'Bu, aku nanti kalo udah sekolah aku nggak kayak mas, aku belajar yang rajin bu'. Masih inget nggak?" Yaa maklum karena memoriku itu memori jangka pendek, aku terkejut, apa aku pernah ngomong itu dan berkata,"Oh ya bu?". Ibu jawab,"Iya.. Adek itu anugerah buat ibu bapak. Terima kasih adek udah jadi anak yang baik. Bahkan, apa yang pernah adek dapet itu merupakan bonus bagi ibu." Spontan aku menangis lebih keras, bukan karena masalah sebelumnya tapi omongan ibu. Ibu memelukku lagi dan berkata, "Mungkin masalah ini cara adek belajar dewasa, belajar mengurangi kekurangan kita, memang nggak bisa seratus persen hilang, tapi setidaknya semakin dewasa sifat itu semakin berkurang. Adek udah mulai berkurang sifat ngambeknya, udah nggak egois lagi. Dan yang penting lagi serahkan semua pada Allah, Yang Maha Mengetahui. Ibu selalu berdoa yang terbaik buat adek. Terima kasih ya dek, udah cerita ke ibu. Walaupun ibu nggak bisa berbuat apa-apa, ibu cuma bisa mendoakan adek." Aku lihat diam-diam ibu juga ikut meneteskan air mata.
Huhuhu.. Aku hanya bisa menangis sesenggukan. Aku merasa beban masalahku seketika lenyap karena rasa cinta ibu padaku. Harusnya aku yang berterima kasih padanya, tapi malah beliau duluan yang berterima kasih. Ibu benar-benar tulus mencintai keluarganya. Rasa keakuan aku rasa sudah tidak ada pada dirinya. Beliau hanya berpikir tentang apa yang terbaik untuk keluarganya. Itu juga terlihat saat aku dan ibu membeli baju. Ibu hanya berpikir untuk membelikanku baju, padahal beliau sendiri sudah lama tidak membeli baju baru. Kalau aku tidak memintanya membeli baju untuk beliau sendiri, beliau tidak akan melakukannya.
Ibuku juga merupakan orang yang tegar. Kejadian dua tahun lalu di keluarga kami, tidak membuatnya jatuh. Ibu dan bapak malah semakin giat berdoa menyerahkan semua pada Allah, dan berusaha seakan tidak terjadi apa-apa di hadapanku walaupun aku tahu perasaan mereka sangat sedih. Ibu, aku tidak tahu apa jadinya aku tanpamu. Apakah jika nanti aku jadi ibu, aku akan sehebat ibu dalam mendidik anaknya? Allah, aku mohon berikan aku kesempatan untuk membahagiakan ibu dan bapak. Terima kasih telah menitipkanku pada ibu yang benar-benar mengajariku cara mencintai, termasuk mencintai-Mu dan Rasulullah.       

No comments:

Post a Comment