Friday, January 25, 2013

Resep Lasagna Panggang (Baked Lasagna Recipe) ala Fariztah

Akhirnyaa.. Dengan sedikit modifikasi dari resep yang aku temukan karena resep yang pertama dulu aku lupa menyimpannya, tetapi sepertinya masakan kedua ini yang paling pas. Daripada aku lupa lagi resep kemarin jadi aku tulis di blog. Hehe.. Karena masih ada satu bungkus pasta lasagna lagi -__-
Kalau mau mencoba resep ini juga silahkan.



Bahan:

125 gram pasta lasagna instan
50 gram keju parmesan
margarin untuk mengoles loyang

Saus Daging (Red Sauce):
margarin untuk menumis
150 gr bawang bombay, cincang halus (setara dengan 1 buah bawang bombay besar)
300 gr daging ayam giling
300 gr tomat merah, rebus, kuliti, cincang halus
340 ml (1 botol) saus tomat
oregano bubuk
garam
gula pasir
merica bubuk

Saus Keju (White Sauce):
30 gr margarin
40 gr tepung terigu
400 ml susu cair
garam
gula pasir
merica bubuk
oregano
100 gr keju cheddar, parut halus (sebenarnya di beberapa resep menggunakan keju mozarella, tapi berhubung budget anak kuliahan terbatas, jadinya keju cheddar aja)

Cara membuat:
1. Siapkan semua bahan yang diperlukan, cincang yang perlu dicincang seperti bawang bombay dan tomat, parut keju.
2. Saus keju: lelehkan mentega, tumis terigu hingga kecoklatan, tuangi susu sambil aduk hingga rata. Bubuhi garam, merica dan gula pasir, aduk rata. Tambahkan keju, aduk rata. Bisa tambahkan juga oregano. (Bumbu-bumbu ditambahkan sesuai selera, yang pasti gula pasir lebih banyak daripada garam). 
3. Saus daging: lelehkan mentega, tumis bawang bombay hingga harum. Masukkan daging ayam, aduk hingga berubah warna. Masukkan tomat cincang, saus tomat, gula pasir, garam, merica, dan oregano, aduk rata (Bumbu-bumbu ditambahkan sesuai selera, yang pasti gula pasir lebih banyak daripada garam). Masak hingga matang.
4. Dalam loyang yang sudah dioles margarin, ratakan saus daging pada dasar loyang lalu susun sebagai berikut: pasta lasagna-saus daging-saus keju-keju parut (parmesan dan cheddar). Lalu ulangi lagi dari urutan pertama, pasta lasagna. Lakukan hingga bahan habis. Taburi keju parmesan parut, ratakan.
5. Panggang dalam oven selama 40 menit. Angkat. Sajikan hangat.

Sebenarnya, resep lasagna ini menggunakan daging sapi giling. Tetapi ketika aku beli di suatu supermarket, daging sapinya masih digiling, jadi aku mengubah rencana dengan membeli daging ayam giling. Rasanya juga tidak kalah enak. Lagipula rasanya tidak terlalu 'eneg' juga. Yang aku modifikasi juga adalah saus tomat. Resep sebenarnya menggunakan pasta tomat. Tetapi pasta tomat yang aku beli dulu sudah menjamur. Lagipula harga pasta tomat lebih mahal (lagi-lagi masalah harga) dan karena lidahku lidah orang Indonesia yang suka dengan rasa yang lebih 'kaya', aku menggunakan satu botol saus tomat.
Untuk pasta lasagna, aku menggunakan instant lasagna "San Remo". Oven ready lasagna sheets, no pre-cooking required. Jadi tidak perlu direbus dulu, tetapi langsung disusun di loyang. Yang tersedia di supermarket di daerah dekat rumahku beratnya per bungkus 250 gr. Jika menggunakan resep ini, berarti menggunakan setengahnya, yaitu 125 gr.
Hasil resep modifikasi ini dibandingkan dengan resep pertama kali dulu, kali ini tekstur lasagna lebih bagus dan lebih kaya rasa. Saus kejunya juga lebih tepat daripada saat pertama buat dulu. Yang pertama, perbandingan tepung terigu dengan susu cair tidak tepat. Susunya terlalu banyak. Tetapi yang kedua ini perbandingannya agak tepat, walaupun tidak sengaja menuangkan terlalu banyak tepung terigu daripada yang seharusnya dibutuhkan. Meskipun begitu, secara keseluruhan menurutku, rasanya lumayan bagi amatiran seperti aku, hehe..
Happy cooking ^^

Tuesday, November 13, 2012

What should I choose?

Sudah melewati tengah semester di semester 5 ini. Wow, rasanya baru aja jadi maba kemarin (kemarin kapan yaa? plis deh Fariztah -_-). Tapi beneran nggak kerasa sih, maksudku waktu berlalu dengan cepat. Tiba-tiba sudah semester 5 dan tidak lama lagi nyebrang ke rumah sakit. Semakin berjalan kesini, semakin aku berpikir tentang masa depanku. Mungkin ada yang berpikir, kenapa harus mikir, kan udah jelas kalo sekolah di kedokteran ya jelas jadi dokter dong. Iya, memang. Tapi jadi dokter yang gimana? Sekolah kedokteran jaman sekarang beda banget sama jaman orang tua kita dulu. Sekarang, banyak instansi pendidikan baik negeri maupun swasta yang membuka prodi Pendidikan Dokter. Bisa dibayangkan berapa orang yang diluluskan tiap tahunnya untuk menjadi dokter semua. Belum lagi ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi sebelum bisa berpraktek. Sebenarnya kalau dilihat dari rasio jumlah penduduk Indonesia dengan jumlah dokter apalagi dokter spesialis itu masih kurang (Maaf yaa, nggak ada sitasinya..). Hanya saja, semua terkonsentrasi di kota besar. Tapi itu juga butuh peran dari pemerintah sendiri. Entah kenapa pembangunan tidak merata dan kebanyakan terkonsentrasi di Pulau Jawa. Ya jelas kalau mau hidup enak semua pada milih hidup di Pulau Jawa dong -_-. Mungkin ada benarnya kalau ada yang bilang mahasiswa yg kuliah kedokteran ini sudah "terjebak". Hehehe..
Setelah bertemu beberapa orang dan membaca buku aku jadi bingung. Aku jadi bertanya-tanya kira-kira aku ingin jadi dokter seperti apa. Apa yang bisa membuatku berbeda dan berarti? Sewaktu aku menjadi tim medis saat Kejuaraan Piala Walikota Kempo tahun ini, aku berbincang-bincang dengan dr. Evy, yang menjadi kadiv medis dan juga ibu teman SMAku. Beliau berpesan agar aku memutuskan untuk mengambil spesialis dan menjadi dosen, atau apapun itu yang penting punya nilai plus. Dan yang penting, mulai saat ini atau nanti waktu clerkship benar-benar memperhatikan kuliah di tiap departemen, apa saja yang bakal kita lakukan ketika kita mendalaminya dan memikirkan bidang apa yang ingin aku dalami, karena dokter itu kan semacam kontrak pekerjaan seumur hidup. Jadi yang benar-benar kita sukai dan sesuai dengan tenaga kita. Nah, karena ini juga aku berpikir sebagai seorang wanita, yang harus mengurus keluarga, selain nantinya menjadi seorang dokter.
Saat aku mendapat materi dari dr. Siti Pariani, aku juga tambah bingung. Menurut beliau, dokter juga bisa kok nggak melulu berpraktek, tapi juga terjun ke pemerintahan, atau juga lebih bergerak ke bidang promotif dan preventif, bukan hanya kuratif. Ataupun saat aku membaca buku From Beirut to Jerussalem yang ditulis oleh dr. Ang Swee Chai, dokter bedah ortopedi beretnis Cina yang tinggal di Inggris. Kalian tahu apa yang membuatku kagum? Dia memiliki postur tubuh yang mungil khas Asia, bahkan mungkin lebih kecil daripada aku, tapi dia adalah dokter bedah ortopedi dan malah menjadi relawan di daerah konflik yaitu di Palestina, walaupun berbeda agama. Memang yang dibutuhkan di daerah konflik adalah dokter anestesi dan dokter bedah terutama ortopedi. Dia juga mendirikan MAP (Medical Aids for Palestine) sebagai badan yang menyalurkan bantuan warga Inggris untuk Palestina. Wow, tiba-tiba aku ingin menjadi relawan di daerah konflik, tapi nanti ibuku nggak tega. ~.~
Hmm.. Di tengah kebingunganku (nggak bingung juga sih, cuma lagi mikir), ibuku cuma berpesan, "Kalau jadi dokter nanti, jadi dokter yang baik ya dek.." Ayo Fariztah sekarang belajar dulu yang rajin, jangan males-males.. Inget apa tujuanmu kenapa milih jalan ini dulu \(^o^)/

Thursday, October 25, 2012

Ibu, You're My Everything Part II

Ibu pernah bilang betapa beruntungnya ibu punya anak seperti aku dan mas. Tapi seharusnya aku yang bilang kalau betapa beruntungnya aku punya ibu seperti ibu. Ibu yang baik, pengertian dan tegar.
Ibu pernah bilang bahwa ibu bersyukur dengan apa adanya diriku, tanpa menuntutku menjadi yang terbaik, rezeki yang telah aku dapatkan, apa yang bisa aku capai, bagi ibu merupakan bonus. Tapi bagiku, ini karena doa ibu yang selalu mengalir untukku setiap harinya. Tanpa doa ibu dan Allah yang Maha Pemurah, mustahil aku bisa mencapai semuanya.
Saat aku sedang fokus mengerjakan beberapa hal, sampai-sampai aku tidak sadar kalau kedua alisku mengerut hampir menyatu, ibu mendekatiku, berkata sambil tersenyum, "Ya ampun, liat tuh alismu hampir menyatu, nanti gampang keriput lho! Adek mau beli sesuatu? Es krim?". Padahal ibu hanya ingin berbicara padaku setelah sekian waktu aku habiskan di kampus.
Saat aku sedang terdiam dan terlihat sedih karena suatu masalah, ibu mendekatiku dan berkata, "Kenapa dek? Boleh cerita ke ibu? Kayaknya sibuk banget? Banyak yang diurus ya? Lagi mikir apa? Hayoo, ingat ujian tinggal berapa hari lagi". Tapi terkadang aku tidak ingin menceritakan masalah yang aku hadapi, ibu pun berkata, "Ya udah, sebenarnya ibu ingin banget bantu kamu. Ya nggak papa kalau nggak mau cerita. Apapun masalahmu, ingat kalau kamu masih punya pedoman hidup, kamu punya Allah, punya agama, punya Rasulullah dan keluarganya, punya doa-doa untuk segala masalah." Sebenarnya ibu kecewa karena tidak tahu masalahku dan tidak dapat membantuku, tapi ibu berusaha tidak menunjukkannya padaku.
Ibu, maaf bila aku tanpa sadar terlalu sibuk dengan urusanku sehingga sepertinya aku cuek pada ibu. Aku juga sering nggak sms ibu kalau aku pulang telat. Aku juga terkesan nggak pernah cerita ke ibu. Sebenarnya aku mau banget cerita semuanya ke ibu. Karena aku masih mengerjakan hal lain, aku belum sempat cerita ke ibu dan aku rasa ada beberapa hal yang berusaha aku selesaikan sendiri. Tapi aku udah cerita kan tentang keunikan dan kekonyolan teman-temanku. Aku harap bisa membuat ibu tersenyum. Maafkan aku ibu.. Aku tidak mau membuat ibu sedih. Aku sayang ibu, walaupun aku tahu rasa cintaku ini tidak sebanding dengan rasa cinta ibu kepadaku.
Aku jadi ingat saat aku mendapat kuliah PBL tentang Asuhan Persalinan Normal, tanpa terasa mataku berkaca-kaca. Aku baru tahu detailnya proses persalinan normal, bagaimana rasa sakit yang dirasakan ibu. Hal itu membuatku semakin menyadari betapa besar pengorbanan ibu padaku. Hal yang tidak akan bisa terbalaskan sampai kapan pun. Memikirkan semua hal tentang ibu tanpa sadar membuatku meneteskan air mata.  
Ibu, aku senang sekali karena ibu perhatian padaku, selalu ada di sampingku. Aku akan selalu berusaha menjadi orang baik sesuai harapan ibu dan aku janji aku akan membuat ibu merasa bangga dan tidak menyesal mendidik anak sepertiku.

Friday, August 17, 2012

Demi Waktu...

Ramadhan tahun ini akan segera berakhir. Rasanya baru beberapa hari yang lalu hati ini bergembira menyambut datangnya Ramadhan, bulan Allah yang penuh berkah. Aku merasa sangat sedih, menyesal, dan berpikir apakah aku sudah memanfaatkan waktuku sebaik-baiknya untuk memperoleh rahmat-Nya pada Ramadhan kali ini. Alhamdulillah Ramadhan tahun ini bertepatan dengan libur kuliah. Tapi sama aja aku harus ke kampus untuk mengurus banyak hal (susah dijelaskan, hehe..). Paling tidak aku bisa lebih fokus ke ibadah pada malam harinya. Aku merindukan saat-saat membaca doa yang panjaaang sekali, doa yang dibaca pada malam-malam terakhir, butuh waktu satu jam lebih untuk membacanya. Agar tidak mengantuk dan akhirnya salah baca, ibu selalu mengajakku membaca doa bersama. Di satu malam, pada 10 hari terakhir, aku dan ibu sengaja tidak tidur, banyak sekali amalan dapat yang dikerjakan. Setelah selesai mengerjakan amalan-amalan itu, aku membuka sesi curhat antara anak perempuan dan ibunya. Sebenarnya aku mencoba introspeksi diriku sendiri. Karena menurutku mungkin ibu bisa membantuku melihat apakah aku sudah mengambil jalan yang tepat atau tidak, mana yang harus aku perbaiki untuk menjadi lebih baik ke depannya, mengingatkanku untuk selalu bersyukur untuk apapun yang Allah berikan kepada-Mu. Sempat merasa apatis karena mimpiku belum tercapai semua, tapi ibu kembali mengingatkan, kembalikan semua pada Allah, karena Allah mengetahui apa yang baik bagiku. Mungkin saja apa yang aku pinta tidak baik untukku, jadinya Allah belum mengabulkan doaku. Bukankah Dia memberi apa yang paling dibutuhkan hamba-Nya? Pesan ibuku selalu sama setiap waktu: selalu berusaha menjadi orang baik, orang yang bermanfaat bagi orang lain.
Tidak terasa aku akan menempuh semester lima beberapa minggu lagi. Umurku juga sudah 20 tahun lebaran kali ini. Waktu memang cepat berlalu. Ngomong-ngomong, aku ada kutipan bagus lagi, tentang waktu.

"Jika dunia ini ibarat pasar, maka seluruh umat manusia seperti penjual es batu, dan es batu itu adalah modal waktu yang diberikan Allah kepada manusia," kata Ayatullah Muhsin Qira'ati saat menafsirkan surat Al-Ashr. Para penjual es batu selalu dihadapkan kepada kemungkinan mengalami kerugian total jika dagangannya tidak segera laku. Pada suhu udara yang normal, es batu pasti mencair seiring dengan berlalunya waktu, dan es yang sudah mencair pasti tak akan ada yang membelinya.
Itu sebenarnya rahasia waktu. Demi waktu yang terus berlalu, sesungguhnya seiring dengan berlalunya waktu, manusia itu pasti merugi, kecuali mereka yang berhasil menukarkan waktu-waktunya dengan hal-hal paling positif bagi hidupnya: beramal saleh dengan landasan keimanan, serta selalu saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.
Sayangnya, kebanyakan dari manusia tergolong ke dalam kelompok yang merugi itu. Kita cenderung membiarkan es dagangan kita terus-menerus mencair. Waktu terus bergulir, dan kita isi waktu-waktu tersebut dengan sesuatu yang sia-sia. Kalaupun ada kebaikan di dalamnya, itu tidak sebanding dengan harga dari waktu yang terbuang.

Huhu.. Jadi sedih.. Semoga kita selalu diingatkan untuk memanfaatkan waktu kita di dunia ini dengan sebaik-baiknya. Semoga kita bukan termasuk orang yang merugi. Semoga setelah berlalunya Ramadhan kali ini, kita menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Semoga ibadah kita setelah Ramadhan tetap istiqomah seperti saat Ramadhan.

Wednesday, August 15, 2012

Setidaknya, Aku Masih Memiliki Allah Yang Maha Cinta

Entah kenapa akhir-akhir ini aku jadi sensitif kalau mendengar masalah tentang perselingkuhan, poligami, atau apapun itu. Baik dalam konteks pasangan tersebut belum ada suatu ikatan sah (misalkan pacaran) maupun pasangan tersebut sudah menikah. Menurutku kejadian yang berkaitan dengan itu sangat meyakitkan bagi wanita yang dikhianati pria yang dicintainya. Aku heran mengapa kejadian itu sering terjadi karena dari sudut pandangku, yang alhamdulillah dibesarkan dalam suatu keluarga yang lengkap, keluargaku saja bisa menjaga kondisi dalam keluarga penuh dengan cinta dan kasih tanpa harus ada kejadian yang bersifat rendahan seperti itu, mengapa banyak yang tidak bisa menjaga cinta dan komitmen yang sudah mereka buat. Mungkin aku perlu menceritakan tentang tetangggaku, yang bercerai karena suaminya berselingkuh dengan wanita lain. Aku lupa persisnya kapan, yang jelas perselingkuhan itu, bahkan mereka sudah menikah diam-diam, diketahui tetanggaku saat dia sedang hamil! Bayangkan, bagaimana hancur perasaaannya, saat sedang hamil lagi. Yang dia pikirkan hanya cerai dari pria itu. Saat proses perceraian itu, petugas KUA sempat menanyai dia sekali lagi, pilih yang mana, istri yang dulu atau istri barunya. Dia hanya diam, bingung. Tetanggaku bersikeras untuk bercerai, walaupun nantinya dia menjadi single parent. Mungkin lebih baik seperti itu daripada sakit hati berkepanjangan. Kata nenekku, selingkuh itu penyakit, pasti bakal terulang lagi. Beberapa bulan kemudian, tetanggaku melahirkan anak perempuan yang cantik. Kalau ibuku memperhatikan tetanggaku, dia mencurahkan semua untuk anaknya itu. Sekarang anak itu sudah bersekolah di SD. Mungkin karena merasa sedikit bersalah, mantan suaminya berkunjung tiap anaknya berulang tahun (bayangin, setahun sekali ketemu ayahnya!!). Nah, waktu anak itu berulang tahun yang ke-7, pria itu tidak datang, tanpa kabar apapun, tanpa pemberitahuan apapun. Mungkin anak itu kecewa, tapi dia tidak berkata apapun. Sorenya, tiba-tiba badan anak itu panas, panas sekali sampai menggigil, dan mengigau 'ayah, ayah'. Tetanggaku sudah berusaha memberi obat, mengompres, tapi panasnya tidak kunjung turun. Lalu, dia bertanya pada anaknya apakah mau ditelponkan ayah. Tapi karena anak itu sudah kecewa, dia hanya bilang nggak usah, ayah jahat. Aduuh, dengar kejadian itu rasanya hatiku teriris, bahkan aku tidak kuat menahan agar air mataku tidak menetes. Padahal aku tidak mengalaminya. Apalagi tetanggaku yang mengalami hal itu. Aku dan ibu hanya bisa menggumam dan bersumpah, amat menyesal laki-laki itu telah meninggalkan istri dan anaknya seperti itu. Amat menyesal laki-laki itu bila suatu saat anak yang ditinggalkannya itu menjadi orang hebat. Astaghfirullah, kok bisa sih? Siapa sih yang dicontoh pria itu? Belajar agama dimana sih? Nggak tahu ya, kalau Rasulullah aja mengajarkan kita tentang cinta. Dan agama Islam, adalah agama dengan dasar cinta. Ya Allah, sesak rasanya hati ini bila mendengar hal-hal seperti itu lagi. Ya Allah, lapangkanlah untukku dadaku.
Saat aku teringat dan mendengar hal-hal itu, aku segera membuka lagi buku Avatar Cinta untuk meredam emosiku, hehe.. Setidaknya aku merasa masih punya Allah Yang Maha Cinta. Aku mau mengutip beberapa hal dari buku itu.

Cinta dalam Lembaga Keluarga
Jika sepasang suami-istri saling mencintai, dan cinta sangat berperan di antara mereka, maka harga diri mereka menjadi satu, keluarga mereka menjadi satu. Ayah, ibu dan keluarga si istri menjadi seperti ayah, ibu dan keluarga si suami. Begitu juga ayah, ibu dan keluarga si suami menjadi ayah, ibu dan keluarga si istri. Cara pandang dan tindak-tanduk mereka menjadi satu, dan perselisihan di antara mereka menjadi lenyap. Cinta melenyapkan seluruh batas pemisah dan menghancurkan seluruh sifat mementingkan diri sendiri. Cinta adalah sesuatu yang dapat mengubah setan menjadi malaikat. Sungguh, cinta adalah eliksir yang sangat mengagumkan.
Rindu dan cinta adalah kata yang manis dan begitu pula artinya. Insya Allah, kita akan selalu merenungkan kedalaman maknanya. Jika sepasang suami-istri hidup dalam cinta maka seluruh kesulitan mereka akan dapat diatasi, mereka tidak akan merasa kekurangan, dan perkataan orang tidak akan memberi pengaruh sedikit pun kepada mereka. Kesulitan hidup menjadi nihil bagi mereka, dan seluruh yang susah menjadi mudah.

Surga Cinta
Haji Agha Dulabi mempunyai perilaku yang sangat penting, mendekatkan dan menyatukan banyak hati. Dia pernah menyampaikan: "Tidak ada yang lebih begitu saya perhatikan daripada menjadikan dua hati menjadi satu. Saya tidak akan tidur di sebuah rumah yang di dalamnya sepasang suami-istri bertengkar, karena saya dapat merasakan bagaimana rahmat Allah terputus atas rumah itu. Pernah suatu masa perhatian saya hanya tercurah pada keadaan, supaya jangan timbul kedengkian di antara anak-anak dan keluarga. Saya sangat sensitif dalam masalah ini."
Jika dua hati berpisah dan janji di antara mereka sudah dilanggar serta mereka sudah tidak mencintai satu sama lain maka yang ketiga adalah setan dan segala keburukan. Jika dalam rumah tangga sudah tidak ada lagi rasa saling mencintai di antara suami-istri, meskipun mereka mempunyai begitu banyak uang, rumah, nama, kedudukan, kebun dan lain sebagainya, mereka tidak akan dapat merasakan kelezatan hidup. Mereka selalu bertengkar, saling menyalahkan dan saling menzalimi satu sama lain. Kehidupan mereka serasa neraka. Dapat dibayangkan bagaimana nasib anak-anak mereka.

Yang Melahirkan Cinta
Cinta melahirkan cinta. Segala sesuatu yang digunakan akan menjadi bertambah banyak. Seperti layaknya dalam usaha, uang atau modal duniawi yang dijalankan secara tepat, akan menjadi bertambah banyak. Karena itu, cinta harus digunakan, dan harus diamalkan. Boleh juga dikatakan, harus diadakan perlombaan dalam cinta. Mulla Abdullah berkata di dalam kitab al-Makatib, "Sebagaimana orang-orang melakukan olah raga jasmani maka orang mukmin juga harus melakukan olah raga cinta. Anda harus melakukan perlombaan dalam mencintai. Masing-masing harus mendahului pasangannya dalam mencintai. Begitu juga di antara ayah, ibu dan anak. Pedang cinta jauh lebih kuat, lebih tajam, dan lebih cepat dari pedang apa pun. Tidak ada pedang yang dapat menyamainya.

Mungkin cukup segitu yang aku kutip dari buku yang ditulis oleh Habibullah Farakhzad itu. Dalam agama pun diajarkan tentang cinta dan mengagungkannya karena Allah Maha Cinta. Di undangan resepsi pernikahan aja pasti ada kalimat yang intinya berdoa agar pernikahannya itu seperti pernikahan Fathimah dengan Ali, atau dalam sebuah film, seorang wanita mendambakan agar dia seperti Khadijah, yang dicintai oleh Rasulullah, atau Fathimah, yang dicintai oleh Ali. Aku juga sebal bila ada yang membahas masalah poligami. Mereka berkata seolah-olah poligami adalah hal yang bisa dilakukan oleh siapa saja. Padahal, jika mereka mau mencari tahu, tidak hanya sekedar mengerjakan poligami itu, syarat-syarat untuk berpoligami itu amat banyak dan kebanyakan mustahil dipenuhi oleh orang biasa, dengan iman yang dangkal. Contohnya sifat adil, adakah manusia biasa yang menjamin bahwa dia bisa adil pada istri-istrinya? Yang Maha Adil itu lo hanya Allah. Dan bila ada manusia yang bisa, ya hanya yang sekelas Rasulullah. Kita dibandingkan dengan Rasul? Jelas tidak bisa, Beliau adalah pembawa rahmat bagi seluruh alam, utusan Allah. Terus ada yang bilang kalau jaminan istri yang merelakan suaminya berpoligami adalah surga. Surga apanya bro? Kalau dia dalam hati dia nggak rela, mau dapat surga gimana? Hal-hal seperti itu sangat menyakitkan bagi seorang wanita walaupun mungkin dia tidak berkata secara langsung. Kalau melihat hal-hal itu, sepertinya Allah tidak adil pada wanita dengan adanya poligami. Padahal aku yakin, yakin seyakin-yakinnya kalau Allah Maha Cinta dan Maha Adil tidak mungkin membuat suatu aturan yang merugikan makhluk-Nya. Pencipta mana yang tega melihat ciptaannya hancur, apalagi Allah Maha Pencipta. Kalau mereka semua mau belajar, bahwa poligami bukan hal sesimpel itu, bukan hanya untuk kepuasan laki-laki. Itu merupakan jalan darurat. Jalan darurat kan tidak akan dipilih selagi masih ada jalan yang lain. Please, think about it, guys! Kita ditakdirkan berpasang-pasang, wanita diciptakan tidak lain untuk dilindungi oleh pasangannya.               

Monday, July 30, 2012

Suatu Sore di MI Bahagia

Awalnya aku tidak menyangka kalau di kota besar seperti Surabaya ini, masih ada sekolah yang jauh dari kata layak. Tapi aku melihat sendiri hari Sabtu kemarin, 28 Juli 2012. Ada Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang setara SD di daerah Gunung Sari, namanya MI Bahagia. Seharusnya SD kan ada 6 kelas setidaknya, untuk kelas 1 sampai kelas 6. Di sini hanya ada satu ruangan yang diberi sekat sehingga bisa menjadi tiga ruangan. Tapi aku lihat dari tiga ruangan itu hanya dua ruangan yang berfungsi menjadi kelas, sedangkan ruang satunya untuk menyimpan buku-buku dan barang-barang lainnya. Ada satu ruang lagi di depan yang berfungsi sebagai kantor. Tidak ada lapangan di sekolah ini. Di depan sekolah ini langsung berhadapan dengan jalan raya. Aku jadi bertanya-tanya, ada pelajaran olahraga nggak ya di sekolah ini. Murid yang bersekolah di sini total ada 28 anak. Mereka berasal dari kalangan kurang mampu. Tentang gurunya, hanya ada tiga guru. Dan hebatnya, subhanallah, mereka tidak dibayar, mereka memang sukarela mengajar di sekolah ini. Salah satu guru tersebut adalah pemilik yayasan ini.
Alhamdulillah sekolah ini sudah mendapat bantuan dari Konjen AS. Bangunannya sudah lebih layak daripada awalnya. Baru dicat juga. Hari itu juga sekolah ini mendapat bantuan dua kipas angin. Sewaktu saya dan teman-teman swayanaka datang, ada orang dari Konjen AS yang sedang mengajar Bahasa Inggris. Sedangkan kami dari swayanaka memberi bantuan alat tulis untuk anak-anak yang imut itu. Bu Iis bertanya kepada kami yang datang waktu itu siapa yang bisa meng-handle untuk buber di MI Bahagia ini, karena swayanaka juga ada buber di daerah Dupak. Kemungkinan Bu Iis menghadiri buber yang di Dupak, tapi tetap kesini untuk mengantar makanan. Aku pun berkata insya Allah bisa, tentu saja dengan Ainun, hehehe.. Dan, ternyata cuma kami berdua yang bisa T.T Wah wah, walaupun beliau cuma bilang kami hanya ngasih makanan aja, tapi kami mau melakukan sesuatu yang lebih bagi anak-anak itu.
Hari Minggu, 29 Juli 2012, aku dan Ainun janjian bertemu di Taman Bungkul lagi setelah itu berangkat bareng ke MI Bahagia. Alhamdulillah kami masih ingat jalan menuju kesana. Kami masih agak kikuk kalau harus berbicara di depan anak-anak. Dengan sedikit bonek, kami mulai percaya diri menghibur anak-anak itu. Tentu awalnya dengan bantuan Ibu Guru ^^. Untung Ainun sudah menyiapkan hadiah kecil-kecilan. Ibu Guru mencairkan suasana dengan bertanya pada anak-anak, hayoo siapa yang hafal surat Al-Fatihah? Yang bisa maju. Walaupun awalnya malu-malu, ada juga yang maju. Anaknya imuuut ^^ Jadi ingat jaman SD dulu.  

 
Setelah itu, kami mulai bermain. Yang kalah dapat hukuman menyanyi plus menari. Tapi karena agak geje belum sampai satu putaran kami langsung mengalihkan ke kuis. Hehehe.. Maklum, kami masih pemula. Kuisnya berupa pertanyaan berkisar tentang malaikat, hafalan doa-doa, surat-surat pendek. Siapa yang tahu, angkat tangan dan berani maju, bakal dapat hadiah yang sudah disiapkan Ainun. Ada anak laki-laki yang duduk di belakang yang pertama kali menjawab pertanyaan. Wah, hebat.. Pertanyaan selanjutnya nggak ada yang bisa, atau lebih tepatnya masih malu-malu ya. Tapi anak laki-laki yang tadi mengacungkan tangan lagi. Kami bilang, sebentar ya, beri kesempatan yang lain. Dia mengangguk tanda mengerti. Tahu nggak apa yang dia lakukan? Dia memberi tahu jawaban pada teman di dekatnya. Ya ampun, baik banget anak ini. Terus ada anak perempuan, cantik banget, imut, tapi dia pemalu. Waktu disuruh maju, dia nunduk terus, sampai sama Ibu Guru diberitahu, tegak ya badannya, jangan nunduk. Jadi mengingat masa lalu, aku dulu gimana ya, termasuk yang pemalu atau yang sukanya maju terus. Hehe..
Ibu Guru juga memberi kami saran, bagaimana kalau kami bercerita tentang masa sekolah kami, apa yang kami lakukan agar bisa kuliah di kedokteran. Kata beliau, cerita ini untuk memotivasi mereka agar tidak takut bercita-cita tinggi dan tidak malas belajar. Wah, ini merupakan hal yang susah. Entah anak-anak itu mengerti cerita kami atau tidak, semoga mereka bisa menangkap pesan yang kami maksud. Kemudian, karena kami mahasiswa kedokteran, memberi contoh bagaimana cara hidup sehat. Sebenarnya kami mau mengajari cara mencuci tangan yang benar, tapi kami lupa lagunya.. Kalau anak-anak cepat diajari dengan lagu kan. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, waktunya melaksanakan tugas, membagi makanan untuk buber. Walaupun rasanya masih mau bermain dengan anak-anak itu, tapi mau bagaimana lagi. Sebelum mengakhiri pertemuan kami, anak-anak itu bernyanyi. Sewaktu itulah aku baru dapat ide, mengapa nggak mengajak mereka bermain sambil menyeimbangkan fungsi otak kanan dan kiri? Istilahnya senam otak atau brain gym. Mereka kan juga butuh koordinasi alat gerak mereka dan aku yakin mereka pasti bosan kalau hanya diam dan duduk di bangku. Aduh Fariztah, telat banget dapat idenya. Bisa nggak ya lain kali aku dan Ainun kesana lagi?
Bertemu mereka mengingatkanku akan tugas kita sebagai manusia untuk saling menolong dan lebih bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan. Sempat terpikir apa lagi yang bisa aku lakukan untuk orang lain, selain hanya menyisihkan sebagian uang. Tapi kalau aku lihat di sekitarku semua sudah berkecukupan. Kalau mau menolong, aku harus kemana, apa yang bisa aku lakukan. Ternyata sebenarnya masih banyak yang butuh bantuan kita. Walaupun agak telat aku ikut swayanaka ini, aku merasa bersyukur mendapat kesempatan ini. Mengajar dan menghibur anak kecil yang kurang beruntung itu benar-benar membuatku merasa berarti bagi sesama. Semoga kehadiran kami memang benar-benar membawa kebahagiaan di MI Bahagia ini..   
 
 

Wednesday, July 25, 2012

Ibu, You're My Everything..

Sudah dua kali ini, setiap setelah tahajud entah kenapa otomatis aku meneteskan air mata karena teringat omongan ibu saat menghiburku beberapa hari lalu. Sejak saat itu aku berpikir bagaimana jadinya aku kalau tidak ada ibu di sampingku. Beberapa hari yang lalu karena ada sesuatu hal aku merasa sangat sedih dan sakit. Tapi, bagaimana pun aku menyembunyikan rasa sedihku, ibuku pasti tahu. Ibu juga tahu cara agar mau tidak mau aku cerita padanya. Setelah mendengar ceritaku, ibu memelukku dan berkata, "Udah, nggak papa.. Yaa mungkin orang itu masih ada keperluan, atau ada sesuatu, kita ini nggak bisa ngatur orang lain agar sesuai dengan kemauan kita. Kita yang harus pandai-pandai bersikap." Ibu selalu mengajakku untuk berpikir positif terhadap suatu masalah. Lalu ibu berkata lagi, "Tahu nggak, walaupun adek anak bungsu, tapi adek udah dewasa sebelum waktunya. Masih inget nggak, waktu umur 3 tahun, adek ngomong ke ibu, yaa masih pelat (cadel) gitu, ngomong gini, 'Bu, aku nanti kalo udah sekolah aku nggak kayak mas, aku belajar yang rajin bu'. Masih inget nggak?" Yaa maklum karena memoriku itu memori jangka pendek, aku terkejut, apa aku pernah ngomong itu dan berkata,"Oh ya bu?". Ibu jawab,"Iya.. Adek itu anugerah buat ibu bapak. Terima kasih adek udah jadi anak yang baik. Bahkan, apa yang pernah adek dapet itu merupakan bonus bagi ibu." Spontan aku menangis lebih keras, bukan karena masalah sebelumnya tapi omongan ibu. Ibu memelukku lagi dan berkata, "Mungkin masalah ini cara adek belajar dewasa, belajar mengurangi kekurangan kita, memang nggak bisa seratus persen hilang, tapi setidaknya semakin dewasa sifat itu semakin berkurang. Adek udah mulai berkurang sifat ngambeknya, udah nggak egois lagi. Dan yang penting lagi serahkan semua pada Allah, Yang Maha Mengetahui. Ibu selalu berdoa yang terbaik buat adek. Terima kasih ya dek, udah cerita ke ibu. Walaupun ibu nggak bisa berbuat apa-apa, ibu cuma bisa mendoakan adek." Aku lihat diam-diam ibu juga ikut meneteskan air mata.
Huhuhu.. Aku hanya bisa menangis sesenggukan. Aku merasa beban masalahku seketika lenyap karena rasa cinta ibu padaku. Harusnya aku yang berterima kasih padanya, tapi malah beliau duluan yang berterima kasih. Ibu benar-benar tulus mencintai keluarganya. Rasa keakuan aku rasa sudah tidak ada pada dirinya. Beliau hanya berpikir tentang apa yang terbaik untuk keluarganya. Itu juga terlihat saat aku dan ibu membeli baju. Ibu hanya berpikir untuk membelikanku baju, padahal beliau sendiri sudah lama tidak membeli baju baru. Kalau aku tidak memintanya membeli baju untuk beliau sendiri, beliau tidak akan melakukannya.
Ibuku juga merupakan orang yang tegar. Kejadian dua tahun lalu di keluarga kami, tidak membuatnya jatuh. Ibu dan bapak malah semakin giat berdoa menyerahkan semua pada Allah, dan berusaha seakan tidak terjadi apa-apa di hadapanku walaupun aku tahu perasaan mereka sangat sedih. Ibu, aku tidak tahu apa jadinya aku tanpamu. Apakah jika nanti aku jadi ibu, aku akan sehebat ibu dalam mendidik anaknya? Allah, aku mohon berikan aku kesempatan untuk membahagiakan ibu dan bapak. Terima kasih telah menitipkanku pada ibu yang benar-benar mengajariku cara mencintai, termasuk mencintai-Mu dan Rasulullah.       

Tuesday, July 24, 2012

Surabaya City Tour: Visit Museums by Bemo Surabaya Heritage

Hari Kamis, 19 Juli 2012, aku dan teman-teman merencanakan lagi untuk berkeliling kota tercinta dengan bis Surabaya Heritage Track (SHT), setelah dulunya pernah gagal gara-gara Lilik ketiduran -,-". Kami sepakat kumpul di kampus pukul 07.30. Kali ini Vembi nggak ikut, dia masih di Ngawi, kota tercintanya. Tapi seperti yang aku duga, aku datang pertama, padahal jam tanganku sudah menunjukkan pukul 08.00, ckckck.. Aku menunggu di gazteng sendirian, untung ada Ili yang bersedia menemaniku. Beberapa saat kemudian, Ainun datang. Wow, dia udah ngeprint petunjuk jalan ke House of Sampoerna yang dia cari di Google Maps. Lilik akhirnya datang juga. Dia langsung menuju telepon umum koin yang ada di gazteng. Dia menelepon House of Sampoerna untuk memesan kursi bis Surabaya Heritage Track yang jadwalnya akan berangkat pada pukul 09.00. Kami beruntung masih bisa memesan, tapi tunggu, masalahnya adalah Yenni belum datang. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 08.30. Kami langsung menelepon Yenni. Oh tidak, ternyata Yenni lupa -___-. Kami pun segera menyuruh Yenni segera ke kampus. Tapi sayangnya rumah Yenni itu di Sidoarjo. Rencana kami pun gagal lagi, hahaha.. Tahu nggak, berulangkali aku merencanakan untuk berkeliling kota dengan menggunakan bis tersebut sejak SMA, tapi selalu gagal.. Akhirnya kami pun memutuskan untuk membuat rencana alternatif, berkunjung ke Tugu Pahlawan (Heroes Monument) sekalian ke Museum 10 November (Tenth of November Museum). Kami segera menuju tempat parkir motor. Tapi entah kenapa aku lebih memilih untuk naik bemo daripada naik motor. Aku pikir jalan kesana pasti macet dan banyak truk atau bis yang melewati jalan itu. Agak bonek juga, karena kami nggak tau bemo kesana. Tapi kan bisa tanya, hehe.. Lagipula cuaca hari itu lagi mendung. Jadi nggak kepanasan kan :)
Kami mencoba tanya pak sopir bemo O yang lewat di depan kampus kami, kampus A Unair. Ternyata lewat Tugu Pahlawan ^^ karena kami naik bemo, kami menamakan perjalanan kali ini dengan menggunakan Bemo Surabaya Heritage (menghibur diri sendiri karena gagal menggunakan SHT, haha..). Tapi setelah sampai, agak susah menyeberang jalan, macet banget.. Setelah itu, agenda selanjutnyaa, foto-foto sebelum masuk museum ^^
 
Walaupun nggak ada tripod, tas kami pun bisa berfungsi sebagai tripod. Sayang kan, kalau semua nggak ikutan foto. Tapi awalnya yang punya kamera, Yenni, lupa gimana caranya ngatur self-timer --"
Tapi alhamdulillah bisa :)
Kalau ini iseng-iseng foto lompat, mumpung ada lapangan rumput ^^ (Dari kiri: aku, Lilik, Ainun)

Wah, posenya Yenni mirip sama mid air pose Gary di salah satu episode Running Man. Rambutnya juga wow :D (Dari kiri: aku, Yenni, Lilik)
Lama-lama aku dan Lilik capek lompat terus --"

 
Jalan masuk ke museum.
Alhamdulillah, ternyata gratis kalau nunjukin KTM, padahal udah siap-siap uang buat karcis masuk. Lumayan :)

Di dalam Museum 10 November lantai dasar. Kalau di lantai atas ada dioramanya, tapi nggak boleh difoto.
Ini foto di bawah Tugu Pahlawan. Walaupun mendung, tapi tetep aja mata kami cenderung menutup karena silau, hehe.. 
Setelah puas berkunjung ke Museum 10 November dan Monumen Tugu Pahlawan, kami sholat Dhuhur dulu di mushola karena waktu sudah menunjukkan pukul 13.00. Lalu, destinasi berikutnya adalah Bebek Goreng Cak Yudi di dekat SMP Negeri 2 Surabaya. Jalan kaki juga menguras tenaga, bro. Perut kami sudah meronta-ronta minta diisi. Wisata kuliner ini karena dekat dari Tugu Pahlawan, kami tempuh dengan jalan kaki. Sebelumnya aku dan Lilik membicarakan bebek goreng yang enak dekat Tugu Pahlawan, tapi ternyata yang aku maksud dan yang dia maksud berbeda. Tapi nggak masalah, karena kami udah laper banget.
Setelah selesai makan, kami membicarakan destinasi selanjutnya. Yenni punya usul ke Tunjungan Plaza (TP) aja nonton bioskop. Tapi motor kami ada di kampus, dan bakalan di kunci pintu parkirnya pukul 17.00. Kami nggak bisa pulang dong. Lalu, kami berpikir untuk ke kampus dulu, lalu naik motor ke TP. Tapi setelah dipikir lagi, mumpung udah dekat, kenapa nggak ke Museum Kesehatan aja. Nggak setiap waktu kami sempat kesana. Museum Kesehatan berada di Jl. Indrapura. Posisi kami juga di Jl. Indrapura. Tapi kalau jalan kaki sepertinya masih jauh. Kami pun memutuskan naik bemo yang lewat di depan kami. Sebelumnya pasti tanya ke pak sopirnya lewat Museum Kesehatan nggak.. 

Di depan Museum Kesehatan Dr. Adhyatma, MPH. Tiket masuknya Rp 1.500,00 per orang. Wow, parkir motor aja ada yang sampai Rp 2.000,00
Di dalam Museum Kesehatan, kami nggak foto-foto karena terlalu sepi. Di ruangan itu hanya ada kami berempat, ckckck.. Kami juga asyik melihat-lihat benda-benda yang dipamerkan. Tapi, karena saking sepinya, sampai ada kejadian lucu. Di salah satu pintu yang ada di ruangan itu, tertempel tulisan "Dunia Lain". Kami sebenarnya penasaran, tapi karena nggak ada orang lagi selain kami, kami memutuskan untuk melihat-lihat yang lain terlebih dahulu, setelah itu balik ke pintu itu, kalau ada apa-apa kami bisa langsung menuju ke pintu keluar. Setelah sampai di pintu keluar, kami memutuskan untuk balik ke pintu tadi. Kami pikir mungkin itu ruangan tempat benda-benda kesehatan budaya, seperti santet atau pengobatan alternatif lainnya yang pernah kami lihat di televisi. Kami pun berbaris seperti detektif (lebih tepatnya ada rasa takut menyelimuti, hehe..). Ternyata terkunci. Kami pun menuju ke pintu keluar. Jalan menuju pintu keluar ada yang menyempit. Hanya bisa dilewati oleh satu orang. Aku berjalan paling depan, lalu Yenni dan paling belakang Ainun dan Lilik. Ainun dan Lilik berebut karena nggak ada yang mau paling belakang. Mungkin karena suasana seram di museum, hehe.. Akibatnya terjadilah suatu peristiwa antar Ainun dan Yenni. Tapi, maaf karena berdasarkan permintaan korban dan pelaku, peristiwa tersebut tidak bisa aku ceritakan disini, walaupun aku sangat ingin membagikannya ^_^ V
Kami pun keluar sambil tertawa terbahak-bahak. Ada petugas yang menunggu kami dan bertanya ada apa mbak. Spontan kami hanya tersenyum. Kemudian, beliau menunjukkan ruangan lain yang bisa kami kunjungi. Ternyata hal-hal tentang santet atau pengobatan alternatif ada di ruangan yang bertuliskan Kesehatan Budaya. Kami masih penasaran dengan tulisan "Dunia Lain" yang kami temukan tadi. Kami pun bertanya pada beliau mengapa pintu itu terkunci. Lalu beliau menjawab, "Oh, itu toilet mbak. Waktu kapan itu pernah dibuat syuting Bukan Dunia Lain yang di Trans 7 itu lo mbak..". Kami pun hanya berekspresi -_____-. Kami bertanya lagi mengapa masih ditempel. Beliau menjawab, "Yaa, biar tau aja mbak kalo Dunia Lain pernah syuting disitu." Hahaha.. Semoga di ruangan tadi nggak ada CCTV yang merekam kelakuan kami..

Setelah keluar dari ruangan Kesehatan Budaya, ada wayang yang ditampilkan. Iseng-iseng aku dan Ainun meniru wayang tersebut. Aku meniru Bima. Udah mirip belum? Hoho.. Kalo Ainun apa yaa?
Wah, ada Punakawan lewat. Kami meniru masing-masing tokoh yaitu Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Oke, aku sadar diri jadi Semar. Hahaha.. Ainun jadi Gareng, Yenni jadi Petruk, Lilik jadi Bagong. 
Akhirnya tiba waktu kami untuk pulang. Tapi ada satu masalah. Masalah kami adalah, kami nggak tahu bemo apa yang bisa membawa kami kembali ke kampus. Kami bertanya pada orang yang kami temui di jalan. Ada dua pilihan. Pertama, jalan kaki ke Tugu Pahlawan lalu naik bemo dari sana. Kedua, kami naik bemo ke JMP dulu baru naik bemo lagi yang menuju ke kampus A. Otomatis kami memilih opsi kedua karena kaki kami udah keriting jalan kaki terus. Hehe.. Kami naik bemo apa aja yang lewat di depan Museum Kesehatan yang menuju JMP. Tapi karena macet, kami diturunkan di tengah jalan, sopirnya putar balik --" Untung udah dekat JMP. Wah, ternyata ada bemo O. Kami tanya pak sopir apa bemo ini lewat depan kampus A, ternyata iya. Alhamdulillah.. Akhirnya kami sampai dengan selamat kembali ke kampus bermodal nekat kami yang nggak tau apa-apa tentang bemo jurusan Surabaya Pusat dan Utara. Karena rumahku di Rungkut, daerah Surabaya Timur agak selatan, aku cuma tau bemo yang lewat di daerahku aja.
Coba kita hitung berapa biaya yang kami keluarkan seharian itu.
Bemo O Kampus A-Tugu Pahlawan: Rp 3.000,00
Tiket masuk Museum 10 November: Gratis ^^
Bebek Goreng Cak Yudi + es teh: Rp 15.500,00
Bemo (lupa namanya) depan Kantor Pos Besar-Museum Kesehatan: Rp 2.000,00
Tiket masuk Museum Kesehatan: Rp 1.500,00
Bemo (lupa namanya juga) Museum Kesehatan-JMP: Rp 2.500,00
Bemo O JMP-Kampus A: Rp 3.000,00
Total yang kami habiskan seharian itu adalah Rp 27.500,00
Alhamdulillah, cukup murah juga.. Walaupun cuma di Surabaya aja, walaupun rencana utama gagal lagi, tapi pengalaman bersama teman-temanku tetep aja asik :)   

Wednesday, July 11, 2012

Menemukan Diri dalam Kesendirian

'Menemukan Diri dalam Kesendirian'... 
Aku ambil dari buku Avatar Cinta, penulisnya Habibullah Farakhzad. Kalimat itu merupakan salah satu judul sub bab pada bab Rabbana wasi'ta kulla syai'in rahmatan wa 'ilman, yang artinya Ya Tuhan kami, ilmu dan rahmat-Mu meliputi segala sesuatu (QS. Al-Mukmin: 7). Aku tulis disini, karena menurutku ini menarik.

Dalam kesendirian manusia menemukan dirinya, dalam kesendirian manusia menemukan surga. Dalam kesendirian manusia belajar berada di dalam surga. Dalam kesendirian manusia dapat menjauhkan khayalan-khayalan batil dari dirinya.
Sebuah riwayat mengajarkan, "Untuk mengusir bayang-bayang pikiran ucapkanlah la ilaha illallah (tiada Tuhan selain Allah) dan la hawla wala quwwata illa billah (tidak ada daya dan kekuatan kecuali bersandar kepada Allah). Hadist ini tidak menentukan seberapa banyak jumlah mengucapkannya. Bisa saja seseorang mengucapkan kalimat ini satu kali lalu dia sudah merasa ringan.
Selama seseorang belum menemukan kesendirian dan kehadiran hati, dia tidak akan bisa sampai ke mana-mana. Sebelum manusia sendirian berada di dalam kubur, maka terlebih dahulu ia harus menyendiri dan merasakan apakah kesendirian itu. Sebelum pada hari kiamat setiap orang dihadirkan di padang luas tanpa seorang teman, maka dia harus terlebih dahulu merasakan kesendirian di dunia ini.
Allah Swt berfirman, Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri (QS. Maryam: 95).
Suatu masa kelak, setiap orang akan dipisahkan dari seluruh yang dicintainya, sebagaimana pertama kali ia diciptakan. Maka ingatlah, bahwa sebelum kehidupan yang kita alami ini, kita sama sekali bukan sesuatu. Allah Swt berfirman, Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (QS. Al-Insan:1).
Dalam ayat lain Allah Swt berfirman, Dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali (QS. Maryam: 9).
Dalam kesendirian manusia kembali ke tempat pertamanya, yang pada akhirnya dia juga akan kembali ke tempatnya masing-masing. Setiap diri akan menyaksikan pada akhirnya bahwa segala yang ada adalah Dia dan manusia bukan apa-apa. Ketiadaan, kefakiran dan kelemahan kita harus bisa ditemukan dalam kesendirian. Jika seseorang telah menemukan itu semua, maka barulah ia dapat dikatakan menemukan Allah Swt. Karena dia akan menyaksikan bahwa dirinya tidak ada dan hanya Dia-lah yang ada. Dan "kalimat" la ilaha illallah akan tampak. Usahakanlah, agar setiap hari kita dapat meluangkan waktu beberapa saat untuk menyendiri. Menyendiri merupakan salah satu kebiasaan Rasulullah saw. Para 'alim rabbani pun suka menyendiri, terutama pada waktu sahur dan di antara dua terbit fajar.
Menyendiri (berkhalwat) ialah duduk bersama Allah Swt. Menyendiri berarti keluar dari keruwetan dan keanekaragaman kemauan, serta memadamkan gejolak keinginan diri. Ingatlah! Setiap manusia saleh mempunyai alam kesendirian.

Aku jadi ingat, di buku yang ditulis dr. Mehmet C. Oz, entah yang Staying Young atau Being Beautiful, salah satu caranya adalah dengan meluangkan waktu sendiri, bersyukur atas semua yang terjadi bisa menghambat terjadinya stress sehingga bermanfaat baik bagi tubuh kita.. Wah wah subhanallah :)

Sunday, July 01, 2012

Virus, Ujian, dan Ramadhan :D

Beberapa bulan yang lalu, sampe sekarang juga sih, parotitis/mumps atau kita biasa sebut gondong mewabah di angkatanku. Hehehe.. Pernah mencapai angka belasan anak yang kena, ckckck..Untungnya wabah itu nggak sampai ke kelasku. Jadi kasihan tapi juga senyum-senyum sendiri, karena di semester ini aku juga belajar tentang virus, salah satunya virus penyebab mumps. Mumps disebabkan oleh Paramyxovirus. Virus itu termasuk virus RNA dan punya envelope. Transmisinya lewat droplet infeksi, makanya menyebar dengan sangat cepat.. Serasa langsung ada aplikasinya di kehidupan sehari-hari, hehe.. Aku sendiri juga udah pernah kena waktu SD dulu. Tapi kata ibuku gejala klinisnya beda sama teman-temanku yang kena sebelumnya. Kebanyakan panasnya nggak seberapa, terus bengkak di kelenjar ludah (parotitis). Nah, kalau aku jadi ada periode panas banget tiba-tiba suhu tubuh turun drastis, terus berkeringat.. Bingung, nggak tau sakit apa. Udah minum obat, antibiotik kok nggak sembuh. Eh, setelah seminggu demam dengan periode seperti itu ternyata parotitis. Hehe..
Hmm.. Jadi ingat juga setahun yang lalu, bulan Mei kalau nggak salah. Udah waktunya dekat ujian, aku kena varicella (cacar air) -____- Tau nggak, yang paling aku khawatirkan apa waktu aku tau kalau kena varicella? Jelas, bekas cacar airnya, hehe.. Masa umur segini baru kena. Tapi alhamdulillah nggak ada bekasnya. Hoho.. Kalau varicella juga disebabkan oleh virus Varicella-Zooster Virus. Termasuk famili Herpesviridae, subfamili Alphaherpesviridae. Kalau ini virus DNA, punya envelope juga. Tapi yang masih membuatku bertanya-tanya adalah aku ketularan siapa? Balita yang kena varicella waktu aku jadi asisten medis di PHI atau nenekku yang waktu itu juga kena herpes zoster? Hmm.. Karena Herpes Zoster juga bisa terjadi reaktivasi akibat infeksi laten varicella.
Alhamdulillah UAS udah selesai, tinggal jadwal ujian perbaikan. Eh, tapi ada ujian ulang praktikum parasit karena ada masalah -___- Padahal senin malam aku udah ada janji >,< Alhamdulillah Ya Allah, kenapa Engkau masih baik pada hambaMu ini? Baru sempat belajar UAS semalam sebelumnya. Ibu cuma geleng-geleng kepala, belajar kok semalam? Walaupun udah nyicil, tapi yg belum dicicil banyaak.. Nggak boleh diulang lagi Fariztah. Maafkan aku, terima kasih Engkau telah mendengarkan doaku, apalagi doa ibuku T.T Benar-benar merasa bersalah, begitu banyak dosa yang telah aku lakukan tetapi nikmatMu, rahmatMu terus mendatangiku. Terima kasih atas kesempatan yang Kau beri agar aku bisa memperbaiki diriku sebelum memasuki bulanMu yang suci.
Oya, siap-siap buat baksos angkatan, acara forisma, acara swayanaka.. Bismillah, semoga bisa terlaksana dengan baik. Semoga acara baksos nanti bisa berjalan lancar dan memberi banyak manfaat bagi warga desa disana. Semoga di bulan Ramadhan tahun ini aku bisa mencapai target lebih baik daripada tahun lalu. Dan semoga setelah sebulan itu aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik :)